Beranda / Intermezo / Trio Satir: Diet Karnivora, Gak Bahaya Ta?

Trio Satir: Diet Karnivora, Gak Bahaya Ta?

ngopi santuy dan kritis ala trio satir

Obrolan warung kopi tentang diet karnivora yang sedang trend

Warung kopi itu lagi-lagi jadi ruang sidang kehidupan.
Bukan karena ada masalah besar, tapi karena obrolan kecil sering kali lebih jujur.

Yono menggeser gelas kopinya, lalu membuka layar ponsel. Katanya pelan, seperti takut terdengar bodoh.

“Ini banyak yang rame. Diet karnivora. Makan daging saja. Katanya sehat, gula darah turun, badan enteng.”

Bapaknya langsung bereaksi. Matanya berbinar seperti menemukan rumus baru yang secara teknis masuk akal.

“Ya wajar. Protein tinggi, karbohidrat nol. Insulin stabil. Kalau dilihat dari metabolisme, itu logis.”

Pakde yang sejak tadi hanya meniup kopi panas, menoleh tanpa terburu-buru.

“Logis untuk siapa?”

Jawaban itu membuat udara berhenti sebentar. Bukan karena keras, tapi karena tepat sasaran.

Paklik ikut tertawa kecil. “Lha wong dari kecil kita disuruh makan nasi, sayur, buah. Sekarang malah daging tok. Iki diet apa ujian iman?”

Tawa kecil pecah, lalu reda.

Yono mencoba serius lagi. “Tapi testimoni banyak, Pak. Ada yang nyeri sendinya hilang, autoimunnya mendingan.”

Bapaknya mengangguk mantap. “Pengalaman orang itu penting. Tidak bisa diabaikan.”

Pakde mengangguk juga, tapi dengan arah yang berbeda. “Penting, iya. Tapi pengalaman orang lain bukan manual tubuhmu.”

Paklik menyambar pelan, seolah cuma bercanda. “Orang ngebut di jalan tol juga banyak yang selamat. Tapi bukan berarti itu cara pulang yang dianjurkan.”

Yono terdiam. Kopinya sudah dingin, tapi kepalanya justru mulai panas.

Ia bertanya lagi, kali ini lebih hati-hati. “Kalau gitu, yang bikin orang merasa sehat itu apa?”

Bapaknya menjawab cepat. “Dagingnya.”

Pakde menggeleng halus. “Bukan. Yang ditinggalkan.”

Semua menoleh.

“Gula, tepung olahan, makanan kemasan. Begitu itu berhenti, tubuh memang lega. Tapi yang dipuji malah dagingnya.”

Paklik tersenyum miring. “Sing dibuang racun, sing dipuja lauk.”

Sunyi sebentar. Bukan karena bingung, tapi karena kena.

Yono mengingat satu hal yang jarang dibicarakan. “Terus serat gimana?”

Bapaknya mulai ragu, tapi tetap berusaha tenang. “Ada teori kebutuhan vitamin C turun kalau karbohidrat rendah.”

Pakde menimpali tanpa debat. “Teori itu tamu. Tubuh itu rumah.”

Paklik menambahkan, nadanya ringan tapi dalam. “Usus itu kampung. Tanpa serat, warganya pindah. Sepi itu tidak selalu sehat.”

Angin sore lewat, membawa bau gorengan dari seberang. Ironis, tapi jujur.

Yono memberanikan diri lagi. “Kalau ginjal, asam urat, kolesterol?”

Bapaknya menarik napas panjang. “Jangka pendek mungkin aman.”

Pakde menatap lurus ke depan. “Hidup tidak dirancang jangka pendek.”

Paklik menyeringai. “Kolesterol itu seperti utang. Waktu tanda tangan enak. Waktu jatuh tempo, baru sadar.”

Kopi tinggal ampas. Obrolan tinggal inti.

Akhirnya Yono mengajukan pertanyaan yang dari tadi menggantung. “Jadi, diet karnivora ini bahaya atau tidak?”

Pakde menjawab pelan, tanpa nada menggurui.
“Tidak selalu. Tapi berisiko kalau dijadikan iman.”

Bapaknya tak kalah bersemangat, bahkan sedikit defensif. “Tapi juga tidak adil kalau langsung dicap sesat. Ada kondisi tertentu yang memang terbantu.”

Paklik mengangguk, lalu menutup dengan senyum khasnya.
“Masalahnya bukan di dagingnya. Masalahnya di fanatismenya.”

Mereka bangkit dari bangku. Tidak ada vonis. Tidak ada larangan.

Hanya satu kesimpulan lama yang kembali muncul:
tubuh tidak minta ekstrem, tubuh minta dipahami.

Dan Yono pulang dengan pelajaran yang tidak sedang tren, tidak sensasional, tapi sering menyelamatkan:
jalan tengah memang tidak viral,
tapi paling jarang bikin menyesal.

Tag:

Tinggalkan Balasan