Beranda / Intermezo / Trio Satir, Kalap Belanja dan Lebaran

Trio Satir, Kalap Belanja dan Lebaran

ngopi santuy dan kritis ala trio satir

Lebaran dan “Bunuh Diri Finansial” khas msayarakat Indonesia

Warung kopi pojok kampung itu sudah mulai ramai.
Meja kayu tua, kopi hitam panas, dan suara sendok yang beradu dengan gelas.

Yono duduk sambil scroll berita di HP.

“Pakde, iki lucu juga ya,” kata Yono.

“Lho lucu piye?” tanya Satirin sambil meniup kopi.

“Orang-orang bilang Lebaran itu hari kemenangan. Tapi kok habis Lebaran malah akeh sing uripe megap-megap.”

Satiran langsung nyengir.

“Ya wajar toh, No. Lebaran kan setaun sepisan. Masa pelit sama diri sendiri?”

Yono garuk kepala.

“Bukan pelit Pak. Tapi kalau setelah Lebaran dompet kempes, tabungan entek, itu masih disebut menang?”

Satiran santai.

“Lho ekonomi juga bergerak. Orang belanja, pasar rame, pedagang seneng. Negara juga seneng.”

Satirin tersenyum pelan.

“Negara memang seneng rakyat belanja.”

“Lha iya.”

“Tapi dompet rakyat belum tentu ikut seneng.”

Satirun yang sejak tadi diam tiba-tiba nyeletuk.

“Lebaran itu unik, No.”

“Kenapa Paklik?”

“Banyak orang nabung sebelas bulan… cuma supaya kelihatan makmur tiga hari.”

Yono ketawa kecil.

“Wah iya ya. Tiga hari jadi sultan, sisanya dadi pertapa.”

Satiran menggeleng.

“Kalian ini terlalu sinis. Tradisi juga harus dijaga. Masa Lebaran ora ana baju anyar, ora ana panganan akeh, ora bawa oleh-oleh?”

Satirin menaruh cangkir.

“Tradisinya tidak salah.”

“Terus?”

“Yang sering salah itu niat di baliknya.”

Yono langsung condong ke depan.

“Maksudnya Pakde?”

Satirin menunjuk jalan depan warung.

“Coba lihat mudik.”

“Iya.”

“Kadang orang pulang kampung bukan cuma ketemu keluarga.”

“Terus?”

“Tapi supaya kelihatan berhasil.”

Satirun tertawa kecil.

“Di kota makan mi instan… di kampung tampil jadi juragan.”

Meja langsung pecah tawa.

Satiran masih mencoba rasional.

“Ya manusia butuh pengakuan.”

Satirin mengangguk.

“Betul. Tapi kalau pengakuan dibayar pakai utang… itu bukan pengakuan.”

“Terus apa?”

Satirun menjawab santai.

“Itu cicilan harga diri.”

Yono hampir keselek kopi.

“Paklik ini ngeri juga kalimatnya.”

Satiran tertawa.

“Ini yang kamu baca tadi apa istilahnya?”

Yono mencoba mengingat.

“Katanya sih… konsumsi simbolik.”

Satirin mengangguk.

“Bahasa gampangnya begini saja.”

“Apa Pakde?”

“Orang itu sering tidak membeli barang.”

“Lalu?”

“Mereka membeli cerita tentang dirinya.”

Yono mikir sebentar.

“Oh… seperti parcel mahal?”

Satirun mengangguk.

“Parcel itu bukan cuma makanan.”

“Terus?”

“Pesan sosial.”

Satiran menimpali.

“Bahasa kampungnya…”

“Apa?”

“Gengsi yang dibungkus pita.”

Semua ketawa lagi.

Beberapa saat kemudian Yono bertanya lagi.

“Pakde, berarti Lebaran ini sebenarnya ujian juga ya.”

“Ujian apa?”

“Ujian antara akal sehat sama tekanan sosial.”

Satirin mengangguk.

“Betul.”

“Biasanya yang menang siapa?”

Satirun langsung jawab.

“Tekanan sosial.”

Yono menghela napas.

“Padahal simbah saya dulu bilang Lebaran itu sederhana.”

Satirin tersenyum.

“Dulu baju baru siji wae wis seneng.”

Satiran menimpali.

“Sekarang satu keluarga bisa tiga stel.”

Satirun menambahkan pelan.

“Yang penting fotone apik neng Instagram.”

Meja warung kembali tertawa.

Yono lalu bertanya pelan.

“Pakde, sebenarnya Lebaran itu harus bagaimana?”

Satirin menatap kopi di tangannya.

“Lebaran itu sederhana, No.”

“Sederhana bagaimana?”

“Kalau setelah Lebaran hati kita enteng… itu kemenangan.”

Yono mengangguk.

“Kalau dompet juga masih aman?”

Satirun menutup dengan senyum tipis.

“Itu kemenangan plus bonus.”

Satiran tertawa keras.

“Kalau dompet kosong?”

Satirun menyeruput kopi terakhir.

“Ya berarti Lebarannya sudah lewat.”

“Terus?”

“Sekarang waktunya bayar harga perayaannya.”


Catatan warung kopi

Kadang orang itu tidak miskin karena kurang uang.

Tapi karena terlalu mahal membayar gengsi.

Tinggalkan Balasan