Beranda / Intermezo / Mudik Gratis Naik Sepur: Ketika Niat Baik Bertemu Mental “Sing Penting Kebagian”

Mudik Gratis Naik Sepur: Ketika Niat Baik Bertemu Mental “Sing Penting Kebagian”

ngopi di resto kereta

Mudik gratis naik kereta api terlihat solusi cerdas, tapi sering membuka sisi lain: mentalitas “asal kebagian” yang menguji rasa cukup dan etika sosial di perjalanan pulang kampung.

Di gerbong restorasi kereta, suasana agak beda.
Bukan cuma bunyi sendok ketemu piring, tapi juga bunyi logika yang kadang ketinggalan di peron.

Yono duduk sambil ngopi sachet yang diseduh pakai air dispenser kereta. Di depannya, Satiran lagi serius lihat notifikasi.

“Gratisan sepur iki rame, Yo,” kata Satiran. “Programnya bagus. Efisien. Mengurangi beban jalan.”

Yono ngangguk, tapi matanya melirik ke arah lorong. Ada satu keluarga bawa koper segede lemari kontrakan.

“Pak, kuwi mudik apa pindahan?” celetuk Yono pelan.

Satirin yang dari tadi diam, senyum tipis.
“Wong Indonesia nek dikasih gratis, sing diangkut ora mung badan. Kadang sekalian harga diri.”

Satiran langsung nyaut, khas orang yang hidupnya pakai Excel.

“Ya nggak salah. Secara aturan kan boleh bawa barang. Selama nggak melanggar ketentuan.”

Satirun nyeruput kopi, lalu nyeletuk ringan:
“Sing lucu kuwi dudu aturane, tapi niate. Aturan iso longgar, tapi rasa isin kok malah ilang.”

Di ujung gerbong, terdengar obrolan lain.

“Untung daftar cepat, Bu. Lumayan, nggak keluar ongkos.”

“Iya, sekalian bawa beras 2 karung. Di kampung mahal.”

Yono nengok, lalu berbisik:
“Pakde, iki mudik apa logistik operasi?”

Satirin jawab pelan:
“Yo iki laku. Wong lagi butuh, tapi kadang lupa cukup.”

Satiran masih bertahan di posisinya.

“Loh, justru ini rasional. Memaksimalkan fasilitas yang ada. Semua orang juga mikir begitu.”

Satirun senyum, lalu nembak pelan:

“Nah, masalahnya kabeh mikir ‘yo wong kabeh ngono’, akhirnya sing waras dadi minoritas.”

Yono ketawa kecil.

“Berarti gratis iki ujian ya, Paklik?”

Satirun ngangguk.

“Gratis itu bukan soal harga nol. Tapi soal watak yang kelihatan full.”

Kereta tetap melaju.
Di luar, sawah-sawah lewat seperti biasa.
Di dalam, manusia tetap membawa dirinya masing-masing—lengkap dengan alasan, pembenaran, dan kadang… sedikit kelupaan diri.

Satirin menutup pelan:

“Program apik iku penting. Tapi luwih penting maneh, sing nganggo program iku ngerti batas.
Amarga nek ora, sing gratis iso dadi larang… nang rasa.”

Yono nyeruput kopi terakhirnya.

“Berarti sing paling mahal dudu tiket, ya Pakde?”

Satirin jawab singkat:

“Rasa cukup.”


Tag:

Tinggalkan Balasan