Beranda / Intermezo / Bowo, Bakwan Sundul, dan Titian yang Terlalu Jujur

Bowo, Bakwan Sundul, dan Titian yang Terlalu Jujur

Kecebur kali

Di depan sekolah dasar kami ada parit kecil. Lebarnya tak sampai dua meter, tapi bagi anak-anak kampung rawa, itu sudah seperti Sungai Nil versi hemat. Di atasnya terbentang sebatang bambu, cuma satu, lurus, polos, dan jujur. Jujur karena siapa pun yang sombong lewat situ, pasti diadili.

Nama jembatan itu: titian bambu.
Nama korban sejarahnya: banyak.
Hari itu, korbannya: Bowo Herjuno.

Bowo ini anak gendut sok lincah. Jalan biasa saja goyangnya seperti kapal nelayan dihantam ombak. Tapi kalau disuruh lomba lari, dia paling depan—di depan alasan.

Istirahat berbunyi. Kami berhamburan ke depan sekolah. Ada Bu Karti jualan bakwan sundul. Kenapa namanya sundul? Karena bakwannya tinggi menggunung, dan kalau makan harus disundul dulu supaya cabe rawitnya jatuh.

“Bu, lima ratus dua!” teriak Udin.
“Dua biji?”
“Enggak, Bu. Lima ratus dua perut!”

Kami ketawa. Bu Karti geleng-geleng, tapi tetap goreng.

Yono kecil—ya, saya sendiri—sudah pegang satu bakwan, panasnya masih berasap. Bowo datang paling belakangan.

“Geser! Geser! Aku atlet, butuh kalori!” katanya sambil nyengir.

“Kalorimu sudah cukup buat satu RT,” sahutku.

Bowo tidak tersinggung. Ia bangga. Ia menganggap lemak adalah investasi masa depan.

Kami duduk melingkar di tanah. Bakwan sundul dicocol sambal. Rasanya? Gurih, pedas, bikin lupa PR.

Tiba-tiba…

“Guk! Guk! Guk!”

Seekor anjing kampung entah dari mana muncul. Bulu coklat, mata tajam, lidah menjulur seperti mau daftar jadi anggota OSIS.

Udin panik duluan.
“Woy! Anjing! Lari!”

Kami refleks berdiri. Bakwan masih di tangan. Tidak ada yang mau jadi tumbal. Semua lari ke arah titian bambu. Itu satu-satunya jalan aman.

Satu per satu anak melintas.

Udin lewat duluan.
“Eh gampang banget!” teriaknya dari seberang.

Roni menyusul.
“Cuma dua langkah doang, kayak jalan di atas garis buku tulis!”

Saya melintas dengan tenang. Dalam hati: ini bukan soal keberanian, ini soal teknik. Bambu itu licin, tapi kalau fokus, aman.

Di belakang, tinggal Bowo.

Anjing makin dekat.

“Woy! Cepat, Bow!” teriak kami dari seberang.

Bowo keringat dingin.
“Aku takut ketinggian!”

“Ketinggian apanya?! Itu cuma sejengkal!” kataku.

“Bagi kalian sejengkal. Bagi aku… ini jurang Mariana!”

Anjing menggonggong lagi.

“Guk! Guk!”

Bowo teriak, “Tolong aku, Tuhan Bakwan!”

Ia injak bambu.

Kriet…

Bambu berderit halus. Bukan patah. Cuma protes.

“Tenang, Bow!” seru Udin. “Jangan lihat bawah!”

Bowo malah lihat bawah.

Air parit mengalir pelan. Tidak dalam. Tapi cukup untuk menelan harga diri.

“Aku gemetar!” katanya.

“Jangan gemetar! Bambu ikut gemetar!” balasku.

Setengah jalan.

Anjing mendekat sampai tepi parit. Gonggongnya makin semangat, mungkin mengira ini pertunjukan sirkus gratis.

Bowo panik.
“Aku percepat ya!”

“Jangan lari!” kami kompak.

Terlambat.

Ia mencoba meloncat kecil.

Kriet… kriet…

Dan—
Plung!

Air muncrat.

Sepersekian detik hening.

Lalu…

“Hahahahahaha!”

Bowo muncul dari air, rambutnya menempel di dahi, wajahnya antara kaget dan pasrah.

Bakwan di tangannya? Masih utuh.

Saya teriak, “Bakwanmu selamat, Bow! Prioritas hidupmu benar!”

Bowo berdiri di parit yang ternyata cuma setinggi lutut.

“Airnya dingin!” katanya.

Udin nyeletuk, “Itu bukan air, itu kenangan pahit anak-anak gagal.”

Anjing berhenti menggonggong. Ia cuma menatap Bowo, mungkin kecewa karena dramanya selesai.

Bowo merangkak naik ke tepi. Celananya basah. Kaosnya belepotan lumpur tipis.

“Kenapa kalian nggak nolongin aku?” tanyanya.

Saya jawab, “Kami nolongin dengan doa.”

“Doa apa?”

“Semoga bakwanmu tidak hanyut.”

Anak-anak ketawa lagi.

Bowo duduk, memeras celana. Air menetes kembali ke parit, seperti ingin kembali ke rumahnya.

“Ini semua gara-gara anjing,” gerutunya.

Saya menepuk pundaknya.
“Bukan, Bow. Ini gara-gara kamu percaya kalau kamu lincah.”

“Memang aku nggak lincah?”

“Kamu lincah… kalau duduk.”

Udin tambah, “Kalau makan juga cepat.”

Bowo manyun. Tapi ia tetap makan bakwannya.

“Eh, rasanya tambah enak habis kecebur,” katanya serius.

“Kok bisa?” tanya Roni.

“Bumbu perjuangan.”

Kami terdiam sebentar, lalu tertawa lagi.

Bel berbunyi. Tanda istirahat selesai.

“Gimana ini? Bajumu basah,” kataku.

Bowo berdiri.
“Masuk kelas aja. Bilang ke Bu Guru aku praktikum IPA.”

“IPA apa?”

“Pengamatan ekosistem parit.”

Masuk kelas, Bu Siti langsung melihat Bowo.

“Bowo! Kenapa basah begitu?”

Bowo tegap.
“Eksperimen, Bu.”

“Eksperimen apa?”

“Meneliti daya apung tubuh manusia dalam kondisi terancam anjing.”

Kelas pecah.

Bu Siti menahan senyum.
“Kamu ini, Bow. Hati-hati kalau lewat titian.”

Saya angkat tangan.
“Bu, sebenarnya bukan titiannya yang salah.”

“Lalu?”

“Fisika yang bekerja terlalu jujur.”

Bu Siti menatap saya.
“Kamu mau menyalahkan hukum alam?”

“Tidak, Bu. Kami hanya korban gravitasi.”

Bowo bisik ke saya, “Kamu ini teman apa komentator?”

“Teman yang objektif.”

Sepulang sekolah, kami kembali ke titian. Matahari sudah condong. Parit tenang seperti tidak pernah jadi saksi tragedi.

Bowo berdiri di depan bambu.

“Aku harus balas dendam,” katanya.

“Balas dendam ke siapa?”

“Ke diriku sendiri.”

Ia tarik napas panjang.

“Kalau aku jatuh lagi?”

“Berarti kamu konsisten.”

Bowo menginjak bambu lagi. Pelan. Hati-hati.

Kami diam. Kali ini tanpa anjing. Tanpa bakwan. Tanpa drama.

Langkah pertama. Aman.

Langkah kedua. Aman.

Langkah ketiga—ia sudah sampai seberang.

Kami tepuk tangan.

Bowo tersenyum lebar.
“Lihat? Aku bisa!”

Saya angkat alis.
“Iya, bisa. Asal nggak panik dan nggak lari.”

Bowo mengangguk.
“Berarti tadi bukan karena aku gendut?”

Saya berpikir sebentar.
“Sebagian iya.”

Ia kejar saya, pura-pura marah.

Sore itu kami pulang dengan cerita baru. Di kampung rawa, berita menyebar cepat. Besoknya semua tahu: Bowo kecebur kali karena dikejar anjing dan diselamatkan oleh bakwan.

Beberapa hari kemudian, ada anak kelas satu lewat titian dengan takut-takut.

Bowo mendekat dan berkata bijak,
“Tenang saja. Jangan lihat bawah. Jangan lari. Dan jangan makan sambil panik.”

Anak itu bertanya polos,
“Kalau gendut gimana, Kak?”

Bowo terdiam. Lalu menjawab,
“Yang penting percaya diri… dan jangan sok lincah.”

Saya tertawa.
Di kampung kami, pelajaran hidup tidak datang dari buku. Kadang datang dari bakwan, anjing, dan titian bambu yang terlalu jujur.

Dan sejak hari itu, setiap kali Bowo lewat titian, kami selalu berseru,

“Hati-hati, Bow! Sungai Nil menunggu!”

Ia balas teriak,
“Diam kalian! Aku sudah naik level!”

Tapi diam-diam, ia tetap jalan paling pelan.

Karena di dunia anak-anak, jatuh itu biasa.
Yang luar biasa adalah ketika bisa bangun… sambil tetap menggenggam bakwan.

Tag:

Tinggalkan Balasan