Skor PISA Indonesia selalu turun dan seolah tidak terjadi apa-apa
Skor PISA Indonesia kembali rendah. Berita itu lewat seperti iklan asuransi: dibaca sekilas, lalu diskip. Tidak ada yang benar-benar tersinggung. Tidak ada yang merasa terhina. Tidak ada yang marah. Bangsa ini sudah kebal terhadap rasa malu.
Dan jujur saja, anak-anak Indonesia hari ini memang tidak peduli. Jangan berharap mereka peduli. Mereka tidak salah—mereka hanya hasil panen dari ladang yang sejak lama dibiarkan kering.
PISA? Apa itu? Game baru? Influencer? Filter TikTok?
Kalau tidak masuk FYP, maka tidak eksis.
Pendidikan Kita Seperti Gym, Tapi Tidak Pernah Dipakai Olahraga
Sekolah-sekolah berdiri megah. Gedung dicat, spanduk visi-misi dipasang, kurikulum diganti rutin seperti ganti wallpaper. Tapi fungsinya sering mirip gym mahal: ada alatnya, tapi isinya cuma foto-foto.
Anak datang, duduk, mencatat, pulang. Otak? Disimpan rapi, jarang dipakai.
Bertanya dianggap mengganggu. Berpikir kritis dianggap sok pintar. Menghafal dianggap prestasi.
Akhirnya kita punya generasi dengan nilai cukup, tapi tidak cukup bernilai.
Saat PISA menguji kemampuan membaca, anak-anak kita kebingungan bukan karena tidak bisa membaca huruf, tapi karena tidak terbiasa membaca makna. Mereka tahu cara mengeja, tapi tidak diajak merenung. Tahu rumus, tapi tidak paham logika. Tahu jawaban, tapi tidak tahu kenapa.
“Yang Penting Anak Bahagia” — Kalimat Paling Berbahaya Abad Ini
Kalimat ini terdengar mulia. Padahal diam-diam membunuh daya juang.
Anak rewel karena PR? Kasihan.
Anak stres karena tugas? Jangan dipaksa.
Anak bosan membaca? Ya sudah, main HP saja.
Bahagia dijadikan alasan untuk menghindari ketidaknyamanan. Padahal belajar memang tidak selalu nyaman. Berpikir itu melelahkan. Membaca itu menuntut kesabaran. Disiplin itu tidak seksi.
Tapi bangsa besar selalu lahir dari generasi yang tahan capek, bukan yang anti ribet.
Ironisnya, orang tua sering berkata:
“Dulu zaman saya sekolah susah.”
Lalu dengan bangga memastikan anaknya tidak mengalami kesusahan yang sama—termasuk susah berpikir.
Generasi Happy-Happy, Negara Pusing Sendiri
Anak-anak hari ini ahli tertawa. Tapi gagap ketika diminta menganalisis.
Lincah membuat konten. Tapi kikuk membaca satu artikel utuh.
Cepat marah di kolom komentar. Tapi lambat memahami konteks.
Ini generasi yang tahu banyak hal, tapi dangkal di hampir semua hal.
Negara boleh bikin kebijakan pendidikan setebal kitab suci, tapi kalau di rumah yang diajarkan cuma:
“Yang penting kamu senang,”
maka PISA akan terus jadi cerita tahunan tanpa klimaks.
Vietnam melaju bukan karena anak-anaknya jenius. Tapi karena mereka diajari bahwa belajar itu urusan hidup-mati. Sementara kita masih debat apakah tugas sekolah “terlalu membebani mental anak”.
Padahal dunia tidak peduli pada mental anak yang tidak siap. Dunia hanya peduli pada kompetensi.
Apatis Itu Nyaman, Sampai Tagihan Datang
Apatis itu enak. Tidak perlu mikir. Tidak perlu repot.
Urusan negara? Bukan urusan saya.
Pendidikan nasional? Bukan anak saya saja.
Skor PISA? Ah, itu urusan pemerintah.
Masalahnya, tagihan apatis selalu datang belakangan:
- pengangguran terdidik,
- tenaga kerja kalah saing,
- dan bangsa yang hanya jadi pasar, bukan produsen gagasan.
Saat itu, generasi “santai aja” akan kaget:
“Kok hidup susah?”
Padahal hidup tidak berubah. Yang berubah cuma kesiapan mereka menghadapinya.
Negara Ini Tidak Kekurangan Anak Pintar, Tapi Kekurangan Keseriusan
Indonesia penuh anak cerdas. Tapi kecerdasan tanpa disiplin itu seperti mobil sport tanpa rem. Cepat, tapi berbahaya.
Kita lebih sibuk membangun rasa percaya diri daripada kemampuan nyata. Anak dibilang hebat bahkan sebelum bekerja keras. Dipuji dulu, dilatih belakangan—atau tidak sama sekali.
Lalu heran ketika hasilnya kosong.
PISA bukan musuh. Ia cuma cermin besar. Masalahnya, kita tidak suka bercermin. Lebih nyaman mengoles bedak nasionalisme sambil berkata:
“Indonesia itu unik, tidak bisa diukur standar barat.”
Padahal logika, membaca, dan matematika bukan budaya barat. Itu alat dasar bertahan hidup di dunia modern.
Penutup: Satir yang Tidak Lucu Tapi Nyata
Kalau generasi hari ini hanya ingin senang, dan orang dewasa hanya ingin tenang, maka jangan kaget kalau bangsa ini jalan di tempat sambil menyebutnya “proses”.
PISA akan tetap rendah. Vietnam akan terus naik. Timor Leste akan menyusul. Dan kita akan tetap sibuk berkata:
“Yang penting anak-anak kita bahagia.”
Sampai suatu hari, kebahagiaan itu bertemu kenyataan—dan kalah telak.
Karena dunia tidak dikalahkan oleh bangsa yang santai.
Dunia dikalahkan oleh bangsa yang serius berpikir, berani capek, dan tidak alergi pada kebenaran yang pahit.
Dan itu, sayangnya, sedang tidak populer di negeri yang terlalu sibuk tertawa.










