Temuan mikroplastik hingga kedalaman 2.450 meter di jalur Arus Lintas Indonesia menunjukkan pencemaran plastik telah mencapai laut dalam dan berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.
Laut selama ini sering dipersepsikan sebagai ruang luas yang mampu “menelan” segala sesuatu yang dibuang manusia. Sampah plastik yang mengalir dari sungai menuju laut dianggap akan hilang ditelan ombak dan waktu. Namun penelitian terbaru justru menunjukkan kenyataan yang jauh lebih mengkhawatirkan: plastik tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, menjadi semakin kecil, semakin halus, dan semakin sulit terlihat.
Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai keberadaan mikroplastik hingga kedalaman sekitar 2.450 meter di jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) memperlihatkan bahwa persoalan plastik tidak lagi terbatas pada pantai, muara sungai, atau permukaan laut. Masalah ini sudah masuk ke wilayah laut dalam, sebuah ekosistem yang selama ini relatif jarang tersentuh penelitian.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Marine Pollution Bulletin tersebut mengungkap fakta yang seharusnya membuat kita berpikir ulang tentang hubungan manusia dengan laut.
Arus Laut yang Membawa Lebih dari Sekadar Air
Arus Lintas Indonesia atau Indonesian Throughflow (ITF) merupakan sistem arus laut penting yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia. Arus ini mengalir melalui berbagai selat strategis seperti Selat Makassar, Selat Lombok, dan Selat Alas.
Secara ilmiah, Arlindo memiliki peran besar dalam sistem iklim global. Ia membawa massa air, nutrien, dan panas dari satu samudra ke samudra lainnya. Namun penelitian BRIN menunjukkan bahwa arus tersebut kini juga membawa sesuatu yang jauh lebih problematik: mikroplastik.
Dalam ekspedisi oseanografi yang dilakukan pada Januari hingga April 2021 melalui program kolaborasi internasional TRIUMPH, para peneliti mengambil 92 sampel kolom air dari 11 titik pengamatan di jalur Arlindo.
Kedalaman pengambilan sampel tidak main-main—mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter di bawah permukaan laut.
Hasilnya mengejutkan.
Dari 872 liter air laut yang dianalisis, ditemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ini ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer.
Temuan ini mengubah cara kita memandang laut dalam.
Jika selama ini laut dalam dianggap relatif “bersih” karena jauh dari aktivitas manusia, maka fakta ini menunjukkan bahwa polusi plastik memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dari yang dibayangkan.
Serat Pakaian yang Berakhir di Laut Dalam
Hal menarik dari penelitian tersebut adalah jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan. Lebih dari 90 persen partikel yang terdeteksi berbentuk serat (fiber).
Serat ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis seperti polyester.
Artinya, sumber pencemaran tersebut bukan hanya kantong plastik atau botol sekali pakai yang sering menjadi simbol polusi laut. Sebagian besar justru berasal dari sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: pakaian.
Setiap kali pakaian sintetis dicuci, serat-serat mikroskopis dapat terlepas dari kain. Serat tersebut kemudian mengalir melalui sistem pembuangan air, masuk ke sungai, dan akhirnya mencapai laut.
Dalam skala global, jumlahnya sangat besar.
Partikel yang begitu kecil itu tidak terlihat oleh mata manusia. Namun bagi ekosistem laut, keberadaannya bisa sangat signifikan.
Analisis spektroskopi Raman dalam penelitian tersebut juga mengidentifikasi berbagai jenis polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane—bahan yang umum digunakan dalam industri tekstil, kemasan, dan produk manufaktur.
Dengan kata lain, aktivitas manusia di daratan perlahan-lahan meninggalkan jejak hingga ke kedalaman laut.
Ketika Mikroplastik Masuk ke Rantai Makanan
Temuan yang lebih mengkhawatirkan muncul dari penelitian lanjutan yang dipublikasikan dalam jurnal Sains Malaysiana.
Penelitian tersebut menemukan bahwa mikroplastik telah masuk ke dalam tubuh organisme kecil bernama kopepoda.
Bagi sebagian orang, kopepoda mungkin terdengar sepele. Namun dalam ekosistem laut, organisme ini memiliki peran yang sangat penting.
Kopepoda merupakan zooplankton yang menjadi sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan.
Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis. Hasilnya ditemukan 133 partikel mikroplastik di dalam tubuh organisme tersebut.
Rata-rata tingkat konsumsi tercatat sekitar 0,022 partikel per individu—atau satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.
Angka ini mungkin terlihat kecil. Tetapi dalam skala ekosistem, implikasinya sangat besar.
Kopepoda dimakan oleh ikan kecil. Ikan kecil kemudian dimakan oleh ikan yang lebih besar. Pada akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia.
Dengan kata lain, mikroplastik berpotensi bergerak sepanjang rantai makanan hingga mencapai meja makan manusia.
Fenomena ini dikenal sebagai trophic transfer, yaitu perpindahan kontaminan dari satu tingkat trofik ke tingkat trofik yang lebih tinggi.
Masalahnya, plastik tidak mudah terurai. Ia dapat membawa zat kimia tambahan seperti pewarna, aditif industri, atau bahkan polutan lain yang menempel pada permukaannya.
Artinya, dampak mikroplastik tidak hanya bersifat fisik tetapi juga kimiawi.
Laut Indonesia yang Luas, Penelitian yang Masih Terbatas
Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dengan karakteristik yang kompleks. Sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter.
Namun penelitian tentang mikroplastik di wilayah laut dalam masih relatif terbatas.
Sebagian besar studi selama ini memang lebih fokus pada wilayah pesisir atau lapisan permukaan laut karena lebih mudah diakses.
Padahal laut dalam menyimpan ekosistem yang sangat penting bagi keseimbangan global.
Jika mikroplastik sudah ditemukan hingga kedalaman lebih dari dua kilometer, maka kemungkinan besar pencemaran tersebut juga telah menyebar ke berbagai sistem laut lainnya.
Ini bukan sekadar isu lingkungan lokal.
Arlindo adalah jalur arus laut global. Apa yang masuk ke arus tersebut berpotensi bergerak lintas samudra.
Dengan kata lain, sampah plastik yang dihasilkan manusia di daratan bisa saja menjadi bagian dari sirkulasi laut dunia.
Persoalan Lingkungan yang Tidak Lagi Terlihat
Salah satu masalah terbesar dari mikroplastik adalah sifatnya yang nyaris tidak terlihat.
Jika sampah plastik besar mudah dikenali, mikroplastik justru bekerja seperti polusi yang sunyi.
Ia tidak mengapung mencolok di permukaan. Ia tidak selalu terlihat di pantai. Ia bergerak bersama arus laut, tenggelam ke kedalaman, dan perlahan-lahan masuk ke tubuh organisme laut.
Ketika manusia akhirnya menyadari keberadaannya, proses tersebut mungkin sudah berlangsung lama.
Dalam konteks ini, temuan BRIN memiliki arti penting. Ia bukan sekadar data ilmiah, tetapi juga peringatan bahwa persoalan plastik telah melampaui batas yang selama ini kita bayangkan.
Laut dalam yang selama ini dianggap jauh dari aktivitas manusia ternyata tidak sepenuhnya terlindungi.
Jejak plastik tetap sampai ke sana.
Refleksi: Plastik yang Kembali kepada Manusia
Selama puluhan tahun, manusia memperlakukan laut sebagai tempat pembuangan terakhir.
Sampah yang dibuang ke sungai akan mengalir ke laut. Apa yang sudah berada di laut dianggap selesai dari urusan manusia.
Namun penelitian tentang mikroplastik justru menunjukkan sebaliknya.
Apa yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya kembali dalam bentuk yang berbeda—lebih kecil, lebih tersembunyi, dan pada akhirnya lebih dekat dengan tubuh manusia.
Ketika mikroplastik ditemukan di plankton, di ikan, bahkan di air laut dalam, pesan yang muncul sebenarnya sederhana: laut tidak pernah benar-benar menjauhkan kita dari konsekuensi tindakan kita sendiri.
Jika plastik yang kita hasilkan hari ini terus mengalir tanpa kendali, maka suatu saat ia tidak hanya berada di laut.
Ia akan kembali ke piring makan kita.
Dan pada titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar lingkungan.
Melainkan tentang bagaimana manusia mempertanggungjawabkan peradaban yang ia bangun sendiri.










