Beranda / Intermezo / Trio Satir: Bau Gosong Pasar Modal

Trio Satir: Bau Gosong Pasar Modal

ngopi santuy dan kritis ala trio satir


Obrolan warung kopi membahas gonjang-ganjing BEI

Warung kopi itu tidak pernah berubah. Meja kayu yang kakinya diganjal batu, kursi plastik beda warna, dan kipas angin yang bunyinya seperti sedang mengeluh tentang hidup. Bau kopi hitam bercampur gorengan. Tapi sore itu, ada aroma lain. Bukan gosong tempe. Lebih halus. Lebih mengganggu.

Yono mengendus pelan.
“Pakde, ini warung sebelah lagi gosong gorengan, ya?”

Pakde Satirin menyesap kopi, tidak langsung menjawab.
“Kalau gosong gorengan, hidungmu pedih. Ini enggak. Ini bau yang bikin pikiran gelisah.”

Paklik Satirun nyengir.
“Bau berita, No. Biasanya datang dari layar HP, bukan dari dapur.”

Satiran, bapaknya Yono, baru datang. Duduk, buka ponsel, langsung geleng-geleng.
“IHSG turun lagi. Dua hari berturut-turut. Padahal secara fundamental—”

“Lho,” Yono motong, “kok Bapak kalau ngomong pasar modal selalu pakai kata fundamental? Kayak mantra.”

Satiran mendengus.
“Ya karena pasar itu rasional. Ada data, ada angka. Jangan pakai perasaan.”

Pakde Satirin tersenyum tipis.
“Pasar itu isinya manusia, Ran. Kalau semua rasional, tidak ada yang namanya panik berjamaah.”

Hening sebentar. Kipas angin berderit. Dari radio warung, penyiar ngomong soal pengunduran diri pejabat bursa. Nama-nama lewat seperti daftar tamu kondangan.

Yono memecah sunyi.
“Pakde, kenapa orang-orang penting itu mundur bareng-bareng? Apa mereka janjian di grup WA?”

Paklik Satirun tertawa kecil.
“Kalau janjian, biasanya pakai kata ‘demi kebaikan bersama’.”

Satiran mengangkat alis.
“Pengunduran diri itu hal biasa. Dinamika organisasi.”

Pakde Satirin meletakkan cangkir.
“Yang tidak biasa itu waktunya. Kayak orang keluar rumah pas hujan baru mulai deras. Orang akan mikir: hujannya cuma ini, atau ada banjir di depan?”

Yono manggut-manggut.
“Berarti ini bukan hujan biasa?”

Pakde Satirin tidak menjawab. Ia menatap jalan, ke arah asap motor yang lewat.

Paklik Satirun menimpali,
“Kalau cuma hujan, orang buka payung. Kalau bau gosong, orang cari sumber api.”

Satiran menyilangkan tangan.
“Kalian ini kebanyakan metafora. Faktanya, pasar memang fluktuatif.”

“Fluktuatif itu kata halus,” kata Paklik Satirun. “Di warung, kita menyebutnya ‘naik turun tak karuan’.”

Mereka tertawa kecil. Tapi tawa itu cepat reda.

Yono membuka ponselnya.
“Ini ada berita saham gorengan lagi. Katanya sampai polisi turun tangan.”

Pakde Satirin menghela napas.
“Saham gorengan itu seperti cerita lama yang malas pensiun.”

Satiran mengangkat bahu.
“Itu risiko investor. Siapa suruh ikut-ikutan.”

Yono menoleh cepat.
“Lho, Pak. Bukannya pasar modal itu buat orang belajar nabung jangka panjang?”

Satiran terdiam sesaat.
“Secara konsep, iya.”

“Secara praktik?” kejar Yono.

Pakde Satirin menyahut pelan,
“Secara praktik, kadang pasar diperlakukan seperti lomba makan cepat. Siapa cepat, dia kenyang. Yang lambat, kebagian piring kotor.”

Paklik Satirun tertawa.
“Dan yang heran, tiap lomba selalu ada yang percaya ini acara edukasi.”

Satiran agak tersinggung.
“Tidak semua salah sistem. Ada keserakahan individu.”

Pakde Satirin mengangguk.
“Benar. Tapi kalau lubang jalan tidak pernah ditutup, jangan heran kalau tiap minggu ada yang jatuh di tempat yang sama.”

Yono menggaruk kepala.
“Jadi saham gorengan itu karena lubang jalan atau karena pengemudi ngebut?”

Pakde Satirin tersenyum.
“Dua-duanya. Tapi tugas yang bikin jalan itu memastikan lubangnya ditutup, bukan cuma pasang papan ‘Hati-hati’.”

Angin sore meniup kertas bungkus gorengan. Radio berganti berita lain.

Yono membaca lagi.
“Ini ada juga kasus gratifikasi IPO. Lima orang dipecat.”

Paklik Satirun bersiul pelan.
“Gerbangnya saja sudah pakai karcis gelap, bagaimana di dalamnya?”

Satiran menghela napas panjang.
“Itu oknum.”

Pakde Satirin menoleh tajam, tapi suaranya tetap tenang.
“Kalau oknum terus berulang, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya orangnya, tapi kebiasaannya.”

Yono menunduk.
“Berarti investor ritel itu kayak tamu yang datang ke hajatan, tapi dapurnya sudah diacak-acak duluan?”

Paklik Satirun mengangguk.
“Dan disuruh percaya masakannya higienis.”

Mereka terdiam. Warung kopi mendadak terasa lebih sempit.

Satiran mencoba kembali rasional.
“Kan ada OJK, ada sanksi, ada denda.”

Pakde Satirin mengangguk pelan.
“Denda itu seperti uang ganti pecah gelas. Gelasnya bisa dibeli lagi, tapi rasa minum dari gelas retak tetap beda.”

Yono tersenyum pahit.
“Investor asing juga mulai ragu, ya?”

Paklik Satirun menepuk meja.
“Modal itu seperti tamu. Kalau rumahnya berisik dan sering ribut, dia pamit lebih cepat.”

Satiran menghela napas lagi, lebih berat.
“Jadi menurut kalian, ini krisis?”

Pakde Satirin menatap langit yang mulai gelap.
“Belum api besar. Tapi baunya ada. Dan orang Jawa itu diajari: eling lan waspada. Jangan tunggu apinya kelihatan baru lari.”

Yono mencondongkan badan.
“Terus harus bagaimana?”

Paklik Satirun tersenyum.
“Ya jangan pura-pura pilek.”

Satiran tertawa hambar.
“Mudah bicara. Sistem itu kompleks.”

Pakde Satirin menepuk bahu Satiran.
“Kompleks bukan alasan untuk membiarkan yang salah jadi biasa.”

Hening lagi. Hanya suara sendok mengaduk gelas.

Yono memecah keheningan dengan polos.
“Pakde, pasar modal itu sebenarnya apa sih?”

Pakde Satirin tersenyum hangat.
“Tempat orang menitipkan harapan. Bukan tempat orang menguji keberuntungan.”

Paklik Satirun menambahkan,
“Kalau harapan sering dikecewakan, orang akan kembali simpan uang di bawah bantal.”

Satiran mengangguk pelan, kali ini tanpa defensif.
“Mungkin kita terlalu sibuk mengejar angka, lupa menjaga rasa adil.”

Pakde Satirin mengangguk.
“Pasar yang sehat itu bukan yang selalu naik, tapi yang bisa dipercaya.”

Yono meneguk kopi terakhirnya.
“Berarti bau gosong ini peringatan, ya?”

Paklik Satirun tersenyum miring.
“Iya. Bukan buat panik, tapi buat buka jendela.”

Satiran menatap warung, lalu ponselnya, lalu wajah Yono.
“Dan beresin dapurnya.”

Pakde Satirin tersenyum puas.
“Nah. Akhirnya bapakmu ngomong pakai logika dan rasa.”

Mereka tertawa kecil. Di luar, sore benar-benar turun. Bau kopi kembali dominan. Tapi bau gosong itu belum sepenuhnya hilang. Ia masih ada—cukup untuk diingat, cukup untuk tidak diabaikan.

Yono berdiri.
“Kalau begitu, kita pulang. Tapi baunya jangan dilupakan.”

Paklik Satirun mengangguk.
“Yang dilupakan itu pelajaran. Bau itu cukup diingat sebagai penanda.”

Mereka melangkah pergi. Warung kopi kembali sepi. Kipas angin tetap berderit, seolah tahu: cerita ini belum selesai.

Tag:

Tinggalkan Balasan