SPMB jalur domisili menciderai rasa keadilan bagi siswa berprestasitapi tinggal jauh dari sekolah
Warung kopi itu belum ramai betul.
Kopi masih ngebul tipis, gorengan tinggal separuh di tampah anyaman.
Angin pagi lewat pelan, membawa suara ayam dan motor berangkat kerja.
Yono duduk sambil menatap layar ponselnya.
“Tahun ini katanya SPMB lebih adil,” gumamnya. “Empat jalur. Prestasi ada TKA segala.”
Satiran mengangguk pelan. “Bagus itu. Akhirnya jelas. Dulu cuma domisili. Yang dekat sekolah yang diterima. Akamsi semua. Anak kampung sini.”
Satirun tertawa kecil. “Lha memang sekolah itu dibangun buat siapa kalau bukan warga sekitar?”
Satiran menyeduh kopi. “Ya iya. Tapi kalau semua cuma jarak rumah yang dihitung, anak pintar yang rumahnya dua kilometer lebih jauh ya gigit jari. Kayak rebutan jaburan. Yang duduk paling depan, dia yang duluan ambil. Yang belakang tinggal kuah.”
Satirin yang sejak tadi diam, menatap sawah di kejauhan. “Masalahnya bukan dekat atau jauh. Masalahnya cara kita memaknai adil.”
Yono menoleh cepat. “Jadi tahun ini lebih baik, Pakde?”
Satirin tidak langsung menjawab. “Sekarang ada domisili, afirmasi, prestasi, mutasi. Secara konsep rapi. Negara ingin merata, tapi juga menghargai usaha.”
Satiran langsung menyambung, nada logisnya keluar. “Nah itu. Jalur prestasi pakai TKA. Akademik jelas ukurannya. Yang nilainya tinggi, ya masuk. Meritokrasi.”
Satirun menyeringai. “Meritokrasi itu kata keren untuk bilang ‘yang siap, menang’.”
“Memang begitu,” sahut Satiran. “Hidup ini kompetisi.”
Satirin menghela napas tipis. “Kompetisi tanpa titik awal yang sama, hasilnya bukan keadilan. Hanya kelihatan rapi.”
Yono mengernyit. “Maksudnya?”
“Anak kota ikut bimbel mahal. Anak desa belajar dari buku pinjaman. Lalu mereka dites dengan soal yang sama. Kita sebut itu objektif. Tapi kita lupa prosesnya berbeda.”
Satiran menepuk meja. “Tapi negara sudah kasih jalur afirmasi.”
“Ya,” jawab Satirin tenang. “Itu koreksi sosial. Tapi tetap saja, jalur prestasi akan jadi rebutan paling panas.”
Yono tersenyum kecil. “Seperti dulu ya, Pak? Zaman gubernur lama. Zonasi ketat. Yang rumahnya dekat sekolah unggulan, masuk semua. Yang rumahnya jauh, walau pintar, ya wassalam.”
Satirun tertawa. “Makanya orang tua dulu sampai pindah alamat dadakan. Tiba-tiba kontrak sebulan biar dekat sekolah.”
Satiran mengangguk. “Itu karena sistemnya terlalu berat di domisili. Sekarang sudah lebih seimbang.”
Satirin menoleh ke Yono. “Keseimbangan di atas kertas belum tentu seimbang di lapangan.”
Yono menggeser duduknya. “Kenapa?”
“Karena yang menjalankan bukan hanya kementerian. Ada pemda. Ada sekolah. Ada manusia. Dan manusia itu kadang lebih kreatif dari regulasi.”
Satirun menambahkan pelan, “Kalau pengawasan kuat, sistem jadi alat keadilan. Kalau pengawasan lemah, sistem jadi alat negosiasi.”
Satiran tersenyum tipis. “Ah, kalian ini pesimis. Negara sudah bilang objektif, transparan, akuntabel.”
Satirin menatap cangkirnya. “Objektif itu bukan slogan. Ia kebiasaan.”
Yono mulai tertarik. “Menurut Pakde, jalur prestasi ini adil atau tidak?”
“Adil sebagai penghargaan usaha,” jawab Satirin. “Tapi belum tentu adil sebagai alat pemerataan.”
Satiran mengangkat alis. “Lho kok begitu?”
“Prestasi itu buah. Tapi kita jarang melihat pohonnya. Pohon yang tumbuh di tanah subur tentu berbeda dengan yang tumbuh di tanah kering.”
Warung mulai agak ramai. Dua bapak-bapak masuk, memesan kopi tubruk.
Satirun berbisik pelan, “Masalahnya kita sering mengira semua tanah sudah sama rata.”
Yono tertawa kecil. “Jadi SPMB ini seleksi atau refleksi?”
Satirin tersenyum tipis. “Seharusnya refleksi. Setiap tahun kita diuji. Bukan hanya murid yang diuji.”
Satiran memutar sendoknya. “Yang jelas tahun ini tidak lagi rebutan jaburan model lama. Tidak lagi murni akamsi.”
Satirun mengangguk. “Betul. Tapi rebutannya pindah bentuk. Dulu rebut jarak. Sekarang rebut nilai.”
Yono menyahut cepat, “Dan mungkin rebut sertifikat organisasi.”
Satiran terkekeh. “Nah itu. Ketua OSIS mendadak jadi primadona.”
Satirin menutup pelan diskusi itu. “Selama pendidikan dipandang sebagai tangga status, penerimaan murid baru akan selalu panas. Sistem bisa diperbaiki. Watak manusianya yang sulit diatur.”
Angin pagi makin terasa hangat. Matahari naik sedikit lebih tinggi.
Yono memandangi warung kecil itu. Tempat sederhana, tapi obrolannya selalu lebih rumit dari sidang rapat.
“Jadi tahun ini lebih baik?” tanya Yono sekali lagi.
Satirin menjawab pelan, “Lebih rapi, mungkin. Lebih adil? Itu tergantung kita menjalankannya.”
Satirun tersenyum tipis. “Sistem itu seperti sendok. Mau dipakai makan sop atau mencolek kuah orang lain, tergantung tangan yang memegang.”
Satiran menghabiskan kopinya. “Yang penting jangan sampai tiap tahun kita ribut hal yang sama.”
Satirin berdiri perlahan. “Kalau akar masalahnya belum dibereskan, daun bisa diganti warna apa saja. Pohonnya tetap sama.”
Yono terdiam.
Di kejauhan terdengar bel sekolah pertama berbunyi.
SPMB mungkin berubah nama, berubah jalur, berubah regulasi.
Tapi pertanyaannya tetap satu:
kita sedang menyeleksi murid, atau sedang belajar memahami arti adil?









