Warung kopi sore itu agak lengang. Angin dari arah sawah berembus pelan, membawa aroma lumpur basah yang baru saja diinjak kerbau. Di meja kayu panjang, Trio Satir sudah lengkap: Satiran dengan wajah serius seperti baru membaca proposal investasi, Satirin tenang seperti biasa, dan Satirun yang sibuk meniup kopi panasnya pelan-pelan.
Saya, Yono, duduk sebagai cantrik modern. Tugas saya jelas: mendengarkan, lalu kebingungan.
“Ini momentum,” kata Satiran membuka pembicaraan. “Tanah sawah di ujung desa itu strategis. Dekat jalan raya. Kalau kita bangun pabrik genteng, pasarnya jelas. Orang bangun rumah terus.”
Satirun menoleh. “Yang mau bangun rumah siapa?”
“Ya orang-orang,” jawab Satiran mantap. “Populasi naik. Perumahan tumbuh. Genteng selalu dibutuhkan.”
Satirin belum bicara. Ia mengaduk kopi pelan. Tanda bahwa sesuatu akan terjadi.
Saya mencoba menyambung, “Berarti ini namanya… gentengisasi, Pak?”
Satiran tersenyum puas. “Nah, itu istilah bagus. Gentengisasi desa. Transformasi ekonomi.”
Satirun terkekeh kecil. “Transformasi dari hijau jadi merah bata?”
Satiran tak terganggu. “Kita tidak bisa terus romantis dengan sawah. Ekonomi harus bergerak.”
Satirin akhirnya mengangkat wajahnya. “Kalau sawah diambil buat genteng, mau makan apa kalau tidak tanam padi?”
Suasana mendadak hening. Bahkan suara sendok jatuh di meja sebelah terdengar lebih keras dari biasanya.
Satiran menghela napas. “Pakde, kita ini bukan hidup di zaman dulu. Beras bisa beli. Tidak harus tanam sendiri.”
Satirin mengangguk pelan. “Bisa beli, iya. Tapi beli dari siapa kalau semua berpikir sama?”
Saya mencatat dalam hati: perdebatan klasik antara logika pasar dan logika perut.
Satiran mulai menyusun argumen seperti dosen ekonomi. “Diversifikasi pendapatan itu penting. Petani kita hidup pas-pasan. Kalau ada pabrik genteng, lapangan kerja terbuka. Gaji rutin. Lebih pasti daripada menunggu panen.”
Satirun menimpali lembut, “Pasti itu maksudnya tiap bulan ada uang. Tapi makan tetap tiap hari, kan?”
Satiran sedikit tersinggung. “Ya tentu. Dengan gaji, orang bisa beli beras.”
Satirin menatap sawah di kejauhan. “Sawah itu bukan sekadar sumber beras. Ia sumber tenang. Sumber sabar. Orang yang menanam padi tahu musim. Orang yang kerja pabrik tahu target.”
Saya nyaris tepuk tangan. Kalimat itu terasa seperti bisa masuk buku.
Satiran tersenyum tipis. “Tenang dan sabar tidak membayar listrik.”
Satirin membalas tanpa emosi. “Dan listrik tidak bisa direbus jadi nasi.”
Satirun menahan tawa. Saya juga. Tapi Satiran tetap serius.
“Kita ini harus realistis. Desa tidak bisa terus tertinggal. Pabrik genteng itu kemajuan.”
Satirin mengangguk. “Kemajuan itu bagus. Tapi arah kemajuan harus jelas. Kalau maju menjauh dari pangan sendiri, itu namanya apa?”
Satiran menjawab cepat, “Efisiensi.”
Satirun menyela, “Efisiensi perut atau efisiensi laporan?”
Saya mulai pusing. Kopi saya tinggal setengah, tapi perdebatan ini terasa seperti baru mulai.
Satiran lalu mengeluarkan jurus rasionalisasi moral khasnya. “Secara teknis tidak salah. Tanah itu milik kita. Kita bebas memanfaatkannya.”
Satirin tersenyum tipis. “Secara teknis memang tidak salah. Tapi secara sosial?”
Hening lagi.
Angin sawah kembali lewat, seperti ikut mendengarkan.
Saya mencoba netral. “Kalau setengah sawah saja dijadikan pabrik?”
Satirun menoleh pada saya. “Yono, kalau setengah perutmu makan, setengahnya lagi puasa, apa kau kenyang?”
Saya langsung diam. Ilmu filsafat aplikatif sering datang dalam bentuk yang menyakitkan.
Satiran menghela napas panjang. “Pakde ini terlalu sentimental.”
Satirin menggeleng pelan. “Bukan sentimental. Empan papan. Sawah itu papan untuk pangan. Genteng itu papan untuk atap. Jangan tertukar.”
Satirun menambahkan, “Kalau semua jadi atap, nanti tidak ada yang bisa dimasak di bawahnya.”
Satiran masih belum menyerah. “Tapi peluang bisnis ini besar. Permintaan genteng stabil. Kita bisa pakai mesin modern. Produksi massal.”
Satirin bertanya pelan, “Tanah sawah itu subur?”
“Subur.”
“Kalau sudah jadi tanah liat kering dan dibakar terus-menerus, bisa kembali seperti semula?”
Satiran terdiam beberapa detik. “Secara teknis… sulit.”
Satirin mengangguk. “Sawah itu bisa panen tiap musim. Pabrik bisa panen uang, tapi tanahnya tidak kembali.”
Satirun tersenyum, “Yang satu tumbuh, yang satu menyusut.”
Perdebatan mulai memanas. Nada Satiran naik sedikit. “Kita tidak bisa takut perubahan!”
Satirin tetap tenang. “Bukan takut perubahan. Takut lupa batas.”
Saya melihat jelas dua dunia bertemu: dunia rasional modern dan dunia etika kolektif Jawa.
Satiran lalu menyerang dengan data. “Banyak desa sukses karena industrialisasi.”
Satirin mengangguk. “Banyak juga yang menyesal karena kehilangan sawah.”
Satirun menambahkan, “Yang sukses sering masuk berita. Yang menyesal sering masuk warung kopi.”
Saya hampir tertawa keras.
Satiran akhirnya bersandar. “Jadi menurut Pakde, kita tidak boleh membangun apa-apa?”
Satirin menjawab, “Boleh. Tapi jangan makan fondasi sendiri.”
Kalimat itu membuat saya mencatat cepat di ponsel.
Satirun kemudian bicara dengan nada lebih lembut. “Begini. Kita ini ingin untung, itu wajar. Tapi jangan sampai untung hari ini membuat anak cucu beli nasi dengan harga yang kita tidak sanggup.”
Satiran terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung punya jawaban.
Saya melihat wajahnya berubah dari yakin menjadi berpikir.
“Kalau bukan di sawah, di mana?” tanya Satiran akhirnya.
Satirin menjawab singkat, “Cari lahan yang bukan sumber pangan.”
Satirun mengangguk. “Atau kalau tetap ingin produksi, pilih yang lebih ringan risikonya.”
“Seperti?” tanya saya.
Satirun tersenyum. “Seng.”
“Seng?” saya mengulang.
“Iya. Atap seng. Tidak perlu bakar tanah sawah. Bahan bakunya bukan lahan pangan.”
Satiran mengerutkan dahi. “Tapi seng panas.”
Satirin tersenyum. “Perut kosong lebih panas.”
Suasana mendadak pecah oleh tawa kecil. Bahkan Satiran ikut tersenyum tipis.
Satirun melanjutkan, “Seng bisa diganti. Sawah tidak mudah kembali. Kita ini sering terlalu berani pada yang tidak bisa diperbaiki.”
Satiran mengangguk pelan. “Jadi tetap bangun usaha, tapi jangan mengorbankan sawah.”
Satirin menepuk meja ringan. “Nah. Itu baru kemajuan yang empan papan.”
Saya menyimpulkan dalam hati: modern boleh, tapi jangan kehilangan lumbung.
Perdebatan sengit yang tadi hampir seperti sidang kabinet desa kini mencair.
Satiran menatap sawah lagi. “Saya hanya ingin desa ini maju.”
Satirin menjawab lembut, “Majunya jangan sampai membuat kita tergantung pada yang dulu bisa kita hasilkan sendiri.”
Satirun menutup dengan kalimat khasnya, “Kemajuan itu bukan soal seberapa cepat kita berubah, tapi seberapa bijak kita memilih yang tidak boleh diubah.”
Saya meneguk kopi terakhir. Rasanya lebih pahit dari awal, tapi juga lebih jernih.
Gentengisasi batal.
Seng lebih aman.
Sawah tetap hijau.
Dan saya belajar satu hal: dalam hidup, tidak semua yang menguntungkan layak dilakukan. Ada yang secara teknis benar, tapi secara sosial rapuh. Ada yang terlihat maju, tapi diam-diam memotong akar.
Trio Satir sore itu tidak menghasilkan pabrik genteng. Tapi menghasilkan kesepakatan: pangan dulu, baru papan.
Karena atap bisa diganti.
Tapi perut yang kosong tidak bisa dinegosiasi.









