Beranda / Intermezo / Trio Satir: Sandwich Gude Berjargon

Trio Satir: Sandwich Gude Berjargon

ngopi santuy dan kritis ala trio satir

Obrolan warung kopi membawas kedaulatan pangan lokal

Warung kopi sore itu biasa saja. Bangku kayu panjang, kipas angin bunyi kriet-kriet, dan gelas kopi hitam yang tak pernah menanyakan latar belakang biji kopi.

Yono baru duduk, masih bawa sisa ekspresi sandwich siang tadi.

Satiran melirik.
“Lha, wajahmu kok kayak orang baru sadar cicilan?”

Yono menghela napas.
“Tadi makan sandwich di kota.”

Satirun langsung nimbrung.
“Sandwich itu makanan atau status sosial?”

“Katanya sih makanan,” jawab Yono. “Tapi yang dijual kayak keyakinan hidup.”

Satiran terkekeh.
“Pasti ada kata plant based ya?”

Yono mengangguk pelan.

Satirun mengangkat alis.
“Kalau enggak pakai bahasa Inggris, kenyangnya enggak masuk?”

Satirin yang sejak tadi diam, ikut bicara pelan.
“Rasanya piye, No?”

Yono ragu sebentar.
“Kayak… sayur gude.”

Hening setengah detik. Lalu tawa meledak.

Satiran menepuk meja.
“Berarti gude kita selama ini salah branding!”

Satirun menimpali cepat.
“Kasihan gude. Puluhan tahun setia di dapur, baru dihargai setelah naik kelas ekonomi.”

Satirin tersenyum tipis.
“Di kampung, gude dimasak supaya orang kuat kerja. Di kota, dimakan supaya orang kuat ngomong.”

Satiran mengangguk.
“Dan supaya kuat nulis caption.”

Satirun menyeruput kopi.
“Yang lucu itu begini, No. Di sini orang makan biar kenyang. Di sana orang makan biar merasa benar.”

Yono nyengir kecut.
“Harganya juga beda jauh.”

Satiran tertawa.
“Itu bukan harga makanan. Itu biaya merasa lebih maju dari masa kecil.”

Satirin menambahkan pelan tapi menusuk.
“Kalau gude di kampung murah, orang bilang biasa. Kalau mahal, orang bilang sadar.”

Satirun menghela napas panjang.
“Padahal perut itu demokratis. Dia enggak peduli istilah. Yang penting masuk dan beres.”

Yono menunduk, mengaduk kopi.
“Jadi salahnya di mana?”

Satiran menjawab ringan.
“Enggak ada yang salah. Cuma lucu saja. Yang lama sering dianggap kuno, sampai dikemas ulang oleh orang yang lupa cara menumbuk.”

Satirin menutup dengan suara tenang.
“Ilmu itu kalau terlalu banyak jargon, biasanya lupa daratan. Sama seperti makanan.”

Satirun tersenyum.
“Untung gude enggak bisa ngomel. Kalau bisa, mungkin dia bilang:
‘Aku iki sayur, kok diseret-seret jadi filosofi.’

Tawa pecah lagi.

Yono ikut tertawa, kali ini lebih lepas.
Ia paham sekarang:
di warung kopi, kebenaran tidak perlu kemasan.
Cukup duduk, minum, dan jujur pada rasa.

Dan sayur gude?
Tetap menang tanpa perlu presentasi.

Tag:

Tinggalkan Balasan