Setiap sehabis lebaran banyak orang dari desa berbondong-bondong ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Warung kopi pinggiran seperti biasa selalu rame. Televisi masih menyiarkan arus balik. Orang-orang turun dari bus dengan wajah penuh harap. Trio Satir dan Yono seperti biasa bercengkrama menghabiskan waktu bersama sambil membahas fenomena yang terjadi.
Yono melirik layar, lalu ke Pakde.
“Pakde… itu orang-orang datang ke Jakarta bawa koper sama harapan. Biasanya yang berat yang mana?”
Satiran langsung jawab cepat.
“Harapan. Karena koper bisa ditaruh, harapan dibawa terus.”
Satirun ketawa kecil.
“Lha kalau harapannya kegedean, baru sampai terminal juga sudah ngos-ngosan.”
Yono ikut senyum.
“Katanya sih ke sini karena UMP tinggi…”
Satiran angkat alis.
“Ya memang. Logikanya jelas. Upah lebih tinggi, hidup lebih baik. Itu rumus paling dasar ekonomi.”
Satirin ngopi pelan, lalu bilang,
“Rumus itu tidak salah. Cuma… sering dipakai di tempat yang salah.”
Yono mengernyit.
“Maksudnya?”
Satirin:
“Orang lihat angka gaji, tapi tidak lihat harga hidup.”
Satirun nimbrung,
“Kayak lihat menu restoran tanpa lihat harga. Pas bayar baru sadar, ini bukan makan… ini investasi jangka pendek.”
Satiran sedikit kesal.
“Kalian ini terlalu meremehkan. Semua orang punya kesempatan kok di kota.”
Satirin menoleh pelan.
“Kesempatan itu ada. Tapi tidak semua orang masuk dari pintu yang sama.”
Yono:
“Lho, memang ada pintu belakang ya, Pakde?”
Satirun nyengir.
“Ada. Namanya ‘yang penting kerja dulu’. Biasanya pintu itu langsung tembus ke capek.”
Yono ketawa.
“Tapi kan wajar, Paklik. Daripada nganggur di desa…”
Satirin mengangguk.
“Betul. Tapi kalau kerja tidak membuat hidup lebih aman… itu bukan keluar dari masalah. Itu pindah bentuk masalah.”
Hening sebentar.
Satiran mencoba menutup celah.
“Ya tinggal diatur saja pengeluarannya.”
Satirun geleng pelan.
“Kalau semua sudah mahal dari awal… yang diatur itu bukan pengeluaran, tapi nafas.”
Yono langsung nyeletuk,
“Jadi hidup di kota itu kayak nahan nafas ya?”
Satirun:
“Kadang bukan nahan… tapi nyicil.”
Satirin tersenyum tipis.
Yono mulai serius.
“Berarti orang-orang ini salah langkah?”
Satirin pelan menjawab,
“Bukan salah. Mereka cuma berangkat dengan cerita yang terlalu sederhana.”
Satiran:
“Cerita apalagi?”
Satirin:
“Semakin tinggi gaji, semakin baik hidup.”
Satirun menimpali,
“Padahal di kota… semakin tinggi gaji, biasanya makin banyak yang nungguin.”
Yono:
“Nungguin siapa?”
Satirun:
“Kontrakan, makan, ongkos, cicilan… semuanya antre rapi. Lebih disiplin dari pegawai kantor.”
Yono ketawa kecil, tapi langsung diam.
Televisi menampilkan wajah-wajah baru turun dari bus. Ada yang masih tersenyum.
Yono pelan bilang,
“Kasihan ya… mereka pikir ini awal cerita.”
Satirin menatap layar.
“Memang awal. Cuma belum tentu seperti yang dibayangkan.”
Satiran akhirnya melunak.
“Jadi harusnya bagaimana? Tidak usah merantau?”
Satirin geleng.
“Merantau itu baik. Tapi jangan cuma bawa nekat.”
Satirun menambahkan,
“Minimal bawa peta. Biar tahu ini jalan keluar… atau cuma muter-muter di tempat yang lebih mahal.”
Yono mengangguk pelan.
“Berarti kota itu bukan tujuan ya…”
Satirin:
“Kota itu alat.”
Satirun menutup sambil menyeruput kopi,
“Masalahnya… banyak yang pakai alat, tapi tidak tahu cara pakainya.”
Yono melihat lagi ke layar, lalu bergumam,
“Pantes… kemiskinan nggak hilang-hilang.”
Satirin menjawab tenang,
“Bukan tidak hilang… cuma ikut pindah naik bus.”









