Bahasa Inggris dan matematika adalah momok bagi sebagian besar pelajar Indonesia
Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menunjukkan Bahasa Inggris dan Matematika jeblok, lalu muncul pernyataan dari Komisi X DPR RI bahwa ini bukan kelemahan siswa melainkan konteks pembelajaran, di situlah masalah sesungguhnya terlihat jelas:
elit pendidikan kita tidak membaca sejarah, tidak paham realitas lapangan, dan terlalu gemar mengalihkan tanggung jawab.
Mari jujur sejak awal.
Bahasa Inggris dan Matematika selalu lemah—bukan baru kemarin, bukan sejak Kurikulum Merdeka, bukan karena pandemi, bukan karena metode A, B, atau C. Sejak tahun 1970-an, dua mata pelajaran ini sudah menjadi “momok” bagi mayoritas siswa Indonesia.
Jika sesuatu gagal selama lima dekade, itu bukan insiden. Itu pola.
Masalah Pertama: Menghindari Fakta Paling Tidak Nyaman
Fakta pahitnya adalah ini: sebagian besar siswa memang tidak memiliki kompetensi dasar yang memadai di Bahasa Inggris dan Matematika. Titik.
Bukan karena mereka bodoh. Bukan karena malas. Tapi karena fondasi kognitifnya tidak pernah dibangun dengan benar sejak awal.
Namun setiap kali data muncul, yang diserang selalu “konteks pembelajaran”.
Metode salah. Kurikulum salah. Guru terbebani administrasi. Sekolah tak merata.
Semua benar—tetapi itu bukan inti masalah.
Kalau konteks selalu disalahkan, pertanyaannya sederhana:
kenapa setelah 50 tahun ganti kurikulum, ganti metode, ganti istilah, hasilnya tetap sama?
Bahasa Inggris dan Matematika Itu Ilmu Dasar, Bukan Mata Pelajaran Biasa
Di sinilah kekeliruan besar kebijakan pendidikan kita.
Bahasa Inggris dan Matematika diperlakukan seperti mata pelajaran lain—padahal keduanya adalah alat berpikir, bukan sekadar bahan ujian.
- Matematika melatih logika, struktur berpikir, ketepatan, dan sebab-akibat.
- Bahasa Inggris membuka akses ke ilmu global, teknologi, literatur, dan komunikasi lintas batas.
Siswa yang lemah di dua bidang ini akan kesulitan di semua bidang lain.
Bukan hanya di bangku kuliah, tetapi di dunia kerja, bisnis, teknologi, bahkan dalam memahami informasi sehari-hari.
Menyebut kegagalan di dua mata pelajaran ini sebagai “masalah konteks” adalah seperti melihat fondasi rumah retak lalu berkata, “cat temboknya yang kurang tepat.”
Masalah Kedua: Kita Terlalu Takut Mengakui Ketidakmampuan
Ada ketakutan laten di birokrasi pendidikan untuk mengatakan kalimat sederhana:
“Sebagian besar siswa kita belum mampu.”
Padahal mengakui ketidakmampuan bukan penghinaan—itu titik awal perbaikan.
Yang berbahaya justru berpura-pura semua baik-baik saja, lalu menyalahkan sistem abstrak yang tidak pernah bisa dimintai tanggung jawab.
Di lapangan, guru tahu ini.
Orang tua tahu ini.
Siswa pun diam-diam tahu.
Yang sering tidak tahu justru mereka yang duduk di ruang rapat ber-AC, membaca ringkasan eksekutif, lalu bicara seolah memahami realitas kelas di pelosok negeri.
Masalah Ketiga: Kita Terlalu Sibuk “Menyenangkan” Siswa
Selama dua dekade terakhir, pendidikan kita semakin takut membuat siswa tidak nyaman.
Pelajaran dipermudah. Soal dibuat ramah. Standar diturunkan pelan-pelan, lalu disebut inklusif.
Akibatnya?
Siswa lulus tanpa kompetensi, naik kelas tanpa penguasaan, dan akhirnya tumbang di tes-tes objektif.
Bahasa Inggris dan Matematika tidak bisa dinegosiasikan.
Tidak bisa disederhanakan tanpa kehilangan esensinya.
Tidak bisa dikuasai tanpa latihan keras, disiplin, dan pengulangan.
Negara-negara maju paham satu hal ini:
tidak semua proses belajar itu menyenangkan, tapi semuanya membebaskan.
Jadi Solusinya Apa? Bukan Retorika, Tapi Keberanian
Solusinya bukan menyalahkan konteks, bukan mengganti nama kurikulum, bukan membuat jargon baru.
Solusinya adalah keberanian mengambil keputusan tidak populer, antara lain:
- Akui secara nasional bahwa Bahasa Inggris dan Matematika adalah mata pelajaran prioritas absolut, bukan pelengkap.
- Bangun ulang dari fondasi, mulai SD bahkan PAUD—bukan menambal di SMA.
- Pisahkan target kelulusan dengan target kompetensi. Tidak semua siswa harus unggul, tapi semua harus fungsional.
- Latih guru secara substansial, bukan administratif. Guru Matematika harus mengajar logika, bukan rumus hafalan. Guru Bahasa Inggris harus mengajar komunikasi, bukan tata bahasa mati.
- Berhenti memanjakan ilusi. Lebih baik nilai rendah tapi jujur, daripada tinggi tapi kosong.
Penutup: Data Tidak Pernah Bohong, Kita Saja yang Sering Menghindar
Hasil TKA bukan kabar buruk.
Ia justru cermin yang jujur—dan seperti semua cermin, ia tidak nyaman dilihat.
Yang berbahaya bukan siswa yang lemah.
Yang berbahaya adalah elit yang menolak bercermin, lalu sibuk mencari kambing hitam bernama “konteks”.
Bahasa Inggris dan Matematika adalah penentu masa depan akademik dan kehidupan nyata siswa.
Jika kita terus berdalih, generasi berikutnya akan membayar mahal—dengan pengangguran terdidik, ketergantungan teknologi, dan ketertinggalan global.
Sudah saatnya berhenti ngawur.
Bukan dengan menyalahkan, tapi dengan berani berkata jujur dan bertindak keras pada akar masalah.
Mungkin di titik ini kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk bercermin bersama. Pendidikan bukan arena adu retorika, dan data bukan alat pembelaan diri. Jika Bahasa Inggris dan Matematika terus menunjukkan kelemahan yang sama selama puluhan tahun, barangkali ini bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang apa yang belum sungguh-sungguh kita bereskan. Fondasi tidak bisa dibangun dengan slogan. Ia memerlukan kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk memperbaiki dari dasar, meski hasilnya tidak bisa dipanen dalam satu masa jabatan.
Kita semua—pembuat kebijakan, guru, orang tua, dan masyarakat—punya bagian dalam pekerjaan panjang ini. Bahasa Inggris dan Matematika bukan sekadar angka di rapor, melainkan pintu masuk ke daya saing dan martabat intelektual generasi mendatang. Jika hari ini hasilnya belum memuaskan, itu bukan akhir cerita. Justru di sinilah kesempatan untuk memperkuat kembali komitmen bersama: membangun kemampuan dasar dengan serius, menjaga standar dengan jujur, dan memastikan setiap anak memiliki bekal berpikir yang kokoh untuk menghadapi zamannya.









