Pengembangan biofuel di negara tropis jauh lebih efektif daripada mobil listrik
Keputusan pemerintah menghentikan insentif mobil listrik pada akhir 2025 menandai sebuah fase penting dalam perjalanan kebijakan energi dan transportasi Indonesia. Pernyataan Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, bahwa industri telah siap tanpa insentif dan bahwa harga mobil listrik akan turun dengan sendirinya, tentu terdengar optimistis. Bahkan menenangkan. Namun justru di titik inilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: siap untuk siapa, dan solusi untuk persoalan yang mana?
Saya setuju dengan penghentian insentif tersebut. Bukan karena saya anti-teknologi, apalagi alergi pada perubahan. Justru sebaliknya: karena saya percaya bahwa tidak semua yang baru itu relevan, dan tidak semua yang lama itu usang. Mobil listrik, dalam konteks Indonesia, bukanlah jawaban paling masuk akal. Ia mungkin populer, tetapi popularitas tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan. Ia mungkin tampak futuristik, tetapi masa depan tidak selalu dibangun dengan memutus masa lalu.
Narasi besar mobil listrik sering diposisikan sebagai “penyelamat lingkungan”. Emisi nol di knalpot, suara halus, dan citra hijau yang menenangkan nurani. Namun narasi ini kerap berhenti di permukaan. Kita jarang diajak melihat keseluruhan siklus hidupnya: dari tambang nikel yang menggerus bentang alam, rantai pasok baterai yang padat energi, hingga fakta sederhana bahwa listrik kita masih dominan berasal dari batu bara. Emisi memang berpindah lokasi—dari jalan raya ke mulut tambang dan cerobong PLTU—tetapi tidak benar-benar hilang.
Di sinilah problem utama mobil listrik: ia bukan solusi struktural, melainkan solusi kosmetik. Kita mengganti jenis kendaraan tanpa sungguh-sungguh membenahi sistem energi. Kita memoles wajah, tetapi mengabaikan organ dalam. Dalam kondisi seperti ini, memaksa mobil listrik menjadi arus utama justru berisiko menciptakan ilusi kemajuan.
Sebaliknya, mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) sering diperlakukan seolah fosil yang menunggu kepunahan. Padahal, sejarah teknologi menunjukkan hal sebaliknya: teknologi yang bertahan bukan yang paling “trend”, melainkan yang paling adaptif. Mesin pembakaran telah berevolusi lebih dari satu abad—menjadi lebih efisien, lebih bersih, dan lebih fleksibel. Menguburnya terlalu cepat adalah kesalahan membaca sejarah.
Indonesia memiliki keunggulan yang jarang dimiliki negara lain: sumber biofuel yang melimpah. Biodiesel berbasis sawit, bioetanol dari tebu dan singkong, hingga riset lanjutan menuju bahan bakar hayati generasi berikutnya. Mesin pembakaran yang dioptimalkan untuk biofuel—bahkan campuran tinggi atau setara oktan 120—bukan utopia. Ia realistis, teruji, dan sesuai dengan karakter ekonomi kita.
Berbeda dengan mobil listrik yang bergantung pada impor teknologi inti, pengembangan mesin pembakaran ramah biofuel justru membuka ruang kedaulatan teknologi. Rantai nilainya lebih panjang dan lebih lokal: dari petani, pabrik pengolahan, bengkel, hingga industri komponen. Dampaknya menyebar, tidak terkonsentrasi. Dalam bahasa sederhana: uang berputar di dalam negeri, bukan menguap ke luar.
Argumen bahwa mobil listrik akan semakin murah karena kompetisi juga perlu disikapi dengan tenang. Harga bisa turun, benar. Tetapi keterjangkauan bukan hanya soal harga beli. Ada biaya tersembunyi: degradasi baterai, ketergantungan pada infrastruktur pengisian yang belum merata, serta ketidakpastian nilai jual kembali. Sementara itu, mesin pembakaran—terutama yang kompatibel dengan biofuel—memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada dan dipahami masyarakat luas. Ia tidak meminta lompatan, hanya perbaikan.
Pernyataan bahwa komponen mobil listrik lebih sederhana—baterai, motor, controller—juga terdengar meyakinkan. Namun kesederhanaan teknis tidak selalu berarti kesederhanaan sosial. Ketika satu komponen (baterai) menjadi sangat dominan dan mahal, risiko sistemik meningkat. Gangguan pada satu mata rantai bisa melumpuhkan keseluruhan industri. Mesin pembakaran, dengan kompleksitasnya, justru menawarkan redundansi dan ketahanan.
Lebih jauh, kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah target utama kita adalah mengikuti arus global, atau menjawab kebutuhan lokal? Negara dengan listrik bersih dan stabil, wilayah kecil, serta daya beli tinggi mungkin cocok dengan mobil listrik. Indonesia adalah negara kepulauan, dengan disparitas infrastruktur dan ekonomi yang nyata. Solusi tunggal untuk kondisi majemuk hampir selalu bermasalah.
Mengembangkan mesin pembakaran ramah biofuel bukan berarti menolak masa depan. Ia adalah bentuk kedewasaan teknologi: memilih yang relevan, bukan yang sekadar bergengsi. Dunia penerbangan, pelayaran, dan alat berat pun masih mengandalkan pembakaran, sambil terus menekan emisi lewat bahan bakar alternatif. Mengapa sektor otomotif harus diperlakukan seolah pengecualian?
Penghentian insentif mobil listrik, dalam konteks ini, justru bisa menjadi momen reflektif. Bukan untuk memusuhi mobil listrik, tetapi untuk menempatkannya secara proporsional. Ia boleh ada sebagai opsi, sebagai laboratorium teknologi, sebagai ceruk pasar. Tetapi menjadikannya poros utama, sambil mengabaikan potensi biofuel dan mesin pembakaran yang lebih kontekstual, adalah bentuk ketergesa-gesaan.
Kita sering terpesona oleh masa depan yang dipresentasikan lewat brosur dan panggung konferensi. Padahal, masa depan yang berkelanjutan biasanya tumbuh perlahan, berakar pada apa yang sudah kita miliki. Dalam tradisi pembangunan yang matang, inovasi tidak memutus kontinuitas, melainkan memperhalusnya.
Pada akhirnya, kebijakan yang baik bukan yang paling keras mengganti arah, tetapi yang paling cermat membaca jalan. Mobil listrik mungkin bagian dari cerita, tetapi bukan keseluruhan narasi. Mesin pembakaran yang berevolusi dengan biofuel adalah jembatan yang lebih masuk akal—antara realitas hari ini dan harapan esok.
Di titik inilah kita, sebagai masyarakat, perlu menjaga kewarasan kolektif. Tidak semua yang disebut “masa depan” layak dikejar, dan tidak semua yang diwarisi masa lalu harus ditinggalkan. Kemajuan sejati bukan soal memilih yang paling baru, melainkan yang paling tepat.










