Beranda / Intermezo / Trio Satir: Barang China

Trio Satir: Barang China

ngopi santuy dan kritis ala trio satir

Obrolan warung kopi tentang kualitas barang china tidang sebanding dengan manusianya

Warung kopi itu belum benar-benar ramai.
Beberapa bangku masih kosong, ada yang miring, ada yang sudah hafal pantat pelanggan tetap.
Kopi di gelas-gelas kecil masih mengepul, sementara piring gorengan di tengah meja tinggal separuh—entah karena laku, entah karena yang duduk sudah keburu lapar sejak subuh.

Angin pagi menyelinap pelan lewat sela bangku kayu, membawa bau tanah dan sisa embun.
Di tempat seperti ini, orang tidak sedang ingin tampak pintar.
Biasanya justru di sinilah pikiran-pikiran aneh mulai berani keluar.

Yono memutar sendoknya pelan. Bukan mengaduk gula—mengaduk pikiran.

“Pakde,” katanya akhirnya, “aku sering kepikiran. Barang Cina itu kok gampang rusak, ya. Jatuh dikit, mati. Tapi orang Chinanya kok kuat-kuat. Kayak nggak ada kapoknya dihantam hidup.”

Satiran yang sejak tadi membaca ponsel menurunkannya sebentar.
Nada suaranya datar, khas orang yang terbiasa berpikir lurus.

“Itu beda urusan, No. Barang itu soal efisiensi. Murah, cepat, massal. Manusia kan bukan produk pabrik.”

Satirin tidak langsung menimpali. Ia menyesap kopi, membiarkan kalimat itu mengendap. Baru setelah itu ia bicara, pelan tapi tepat.

“Justru di situ menariknya. Barangnya dibuat sekadar cukup untuk dijual. Orangnya dibentuk supaya cukup untuk bertahan.”

Yono mengangkat alis.
“Lho?”

“Barang boleh sekali jatuh langsung rusak,” lanjut Satirin, “tapi manusianya sejak kecil sudah biasa jatuh. Dibiasakan, bukan dimanjakan.”

Satirun yang sedari tadi diam sambil menyalakan rokok ikut nimbrung, tanpa menoleh.

“Logam sama plastik ya wajar patah. Niat sama tekad itu yang susah dipatahkan.”

Yono terkekeh kecil.
“Berarti filosofi barangnya: sing penting laku?”

“Ya,” jawab Satirin ringan, “sementara filosofi manusianya: sing penting tahan.”

Satiran mengangguk pelan, kali ini lebih serius.

“Makanya jangan salah marah. Kita sering kesal sama produknya, tapi lupa belajar dari manusianya.”

Yono menyandarkan punggung, menatap sisa kopi di gelas.

“Berarti orang Cina itu bukan kuat karena pintar saja, tapi karena terbiasa dihantam hidup?”

Satirin mengangguk sekali.
“Dan tidak mengeluh tiap jatuh.”

Yono tersenyum. Senyum yang biasanya jadi tanda bahaya.

“Kalau gitu,” katanya santai, “Ci Ami itu bukan cuma kuat dibanting hidup, Pakde…”

Satirun sudah curiga, rokoknya berhenti di udara.

“…tapi juga kuat dibanting Ko Ho,” lanjut Yono, datar, “sampai anaknya tujuh.”

Sejenak hening.
Lalu tawa pecah, pendek tapi jujur.

“Lha itu pabriknya nggak pernah tutup,” celetuk Satirun. “Shift malam terus.”

Satirin menggeleng, senyum tipis.

“Itu contoh ekstrem. Barang boleh murah, tapi regenerasi jangan putus.”

Satiran menambahkan, kali ini nadanya tenang tapi mengunci.

“Kadang yang kelihatan asal-asalan itu bukan karena bodoh. Tapi karena tahu: yang harus kuat bukan barangnya—melainkan orang yang memakainya.”

Yono menatap ampas kopi di dasar gelas.

“Berarti kita keliru fokus,” gumamnya. “Ribut soal kualitas barang, tapi malas membangun kualitas manusia.”

Satirin menutup obrolan tanpa kesimpulan keras.

“Eling, No.
Peradaban itu tidak diukur dari seberapa awet barangnya,
tapi seberapa tahan manusianya setelah jatuh berkali-kali.”

Kopi habis.
Gorengan dingin.
Obrolan selesai—tapi pikirannya belum.

Tag:

Tinggalkan Balasan