Jargon farm to table kurang relevan di Indonesia, itu hal biasa bagi masyarakat agraris
Warung kopi di ujung desa itu belum ramai betul.
Kopi masih panas, mengepul pelan dari gelas-gelas kaca. Gorengan tinggal separuh, sisanya sudah berpindah perut entah ke siapa. Angin pagi nyelip lewat sela bangku kayu, membawa bau tanah basah dan rumput yang baru dipotong.
Yono datang agak siang. Bajunya masih rapi, sepatu masih bersih—tanda baru pulang dari kota. Ia duduk, narik bangku, lalu menghela napas panjang seolah baru selesai lari maraton, padahal cuma naik mobil.
“Pakde,” katanya membuka obrolan, “kemarin aku makan plecing kangkung di kota.”
Satiran, bapaknya, langsung menoleh. “Lho, plecing kok di kota? Kangkung kan tumbuhnya di parit.”
Satirin yang lagi ngaduk kopi cuma senyum tipis. Satirun angkat alis, tanda ini bakal panjang.
“Plecing biasa?” tanya Satirun.
“Biasa… tapi katanya luar biasa,” jawab Yono. “Semua organik. Kangkungnya fresh from the garden. Sambalnya raw food. Lalapnya dipetik pagi, dimakan siang.”
“Terus?” Satiran mulai curiga.
“Harganya,” Yono menurunkan suara, “fantastis.”
Satirun ketawa kecil. “Fantastis itu relatif. Fantastis bagi dompet atau bagi cerita?”
“Bagi dompet,” jawab Yono jujur. “Satu piring, harganya bisa buat beli kangkung satu ikat buat seminggu di sini.”
Satiran nyengir. “Itu bukan plecing, itu pengalaman.”
Satirin nyeletuk pelan, “Dulu kita makan kangkung karena murah. Sekarang dimakan karena mahal.”
Mereka tertawa. Kopi diseruput. Gorengan dikunyah pelan.
Yono melanjutkan, “Katanya itu konsep farm to table. Dari kebun langsung ke meja. Lebih sehat, lebih jujur, lebih beradab.”
Satirun mengangguk sok serius. “Farm to table itu istilah bagus. Tapi di kampung, dari dulu namanya ya… masak.”
Satiran menimpali, “Atau dari kebun ke pawon, dari pawon ke piring. Gratis ongkos branding.”
Satirin menaruh gelasnya. “Masalahnya bukan di farm to table-nya. Masalahnya di ceritanya. Kangkungnya sama, ceritanya yang beda.”
Yono garuk kepala. “Tapi mereka meyakinkan sekali, Pakde. Petaninya difoto. Kebunnya difoto. Meja kayunya rustic. Lampunya temaram. Kita merasa sedang menyelamatkan bumi sambil makan.”
Satirun terkekeh. “Makan sambil tobat ekologis.”
Satiran menambahkan, “Di sini kita makan sambil mikir besok nyangkul lagi.”
Satirin tersenyum. “Itu bedanya. Di kota, makan jadi pernyataan sikap. Di desa, makan ya supaya kuat hidup.”
Yono terdiam sejenak. “Aku jadi mikir. Kita di kampung selama ini farm to table, tapi kok nggak bangga ya?”
Satirin menjawab pelan, “Karena yang biasa jarang dihargai. Yang jauh kelihatan istimewa. Yang dekat dianggap remeh.”
Satirun mengangguk. “Kalau kangkung tumbuh di pot beton lantai tujuh, baru dianggap perjuangan.”
Satiran nyeruput kopi, lalu nyeletuk, “Coba nanti kita pasang papan di kebun: ‘Organic Kangkung Experience’. Masuk bayar.”
Mereka tertawa lagi. Lebih keras kali ini.
Yono ikut tertawa, lalu berkata, “Tapi jujur, rasanya enak sih.”
Satirin menoleh. “Enak karena lapar, atau enak karena yakin mahal?”
Yono mikir. “Mungkin dua-duanya.”
Satirun menepuk meja pelan. “Itu dia. Harga bukan cuma di piring, tapi di kepala.”
Angin lewat lagi. Daun pisang di samping warung bergesek pelan.
Satiran berkata, “Di kota, orang membayar mahal untuk merasa dekat dengan alam. Di desa, kita dekat alam tapi pengin ke kota.”
Satirin menimpali, “Sama-sama belum selesai dengan rasa cukup.”
Yono mengangguk pelan. “Berarti masalahnya bukan di plecing atau kangkungnya.”
Satirun menyimpulkan, “Masalahnya di cara kita memaknai hidup. Yang satu makan untuk hidup. Yang satu hidup untuk cerita saat makan.”
Sunyi sebentar. Kopi tinggal ampas.
Yono berdiri, membayar kopi yang harganya masih masuk akal. Sebelum pergi, ia berkata, “Besok-besok, kalau aku kangen farm to table, aku ke sini saja.”
Satirin tersenyum. “Di sini farm to table. Tanpa brosur.”
Satirun menambahkan, “Dan tanpa harga fantastis.”
Mereka tertawa kecil. Warung kopi kembali tenang.
Kangkung di parit tetap tumbuh, tanpa tahu kalau di kota, saudara jauhnya sedang difoto sebelum dimakan.









